Peluang dan Tantangan Dinamis Dunia Penerbangan Indonesia

Peluang dan Tantangan Dinamis Dunia Penerbangan Indonesia

Pertumbuhan sektor transportasi udara di Asia Pasifik sangatlah menjanjikan. Menurut perkiraan IATA, Asia Pasifik akan memiliki pangsa pasar berupa penumpang sebesar 3,5 miliar pada 2036 (lebih dari dua kali lipat yang ada di Amerika Utara dan Eropa). Permintaan di kawasan ini diprediksi akan mencapai 39% dari total permintaan global. Namun di sisi lain, hanya 10% penduduk di Asia yang telah menikmati transportasi udara saat ini.

Berkaitan dengan pertumbuhan pasar yang besar di belahan Asia maka alokasi dana investasi diperkirakan sebesar US$ 500 miliar telah dipersiapkan untuk ekspansi bandara di kawasan Asia. Di Beijing akan dibangun bandara baru senilai US$ 12.9 miliar dan dibuka pada tahun 2019 sehingga Beijing akan menjadi pusat penerbangan terbesar di dunia. Selain itu bandara Suvarnabhum di Bangkok yang renovasinya menelan dana sekitar US$ 3.7 miliar dan akan selesai tahun 20121 dengan 3 landasan pacu. Di Korea juga terdapat megaproyek perluasan bandara Incheon yang menghabiskan dana US$ 4.6 miliar dengan target Incheon akan menjadi salah satu bandara mega-hub.

Pertumbuhan kelas menengah Asia yang meningkat pesat tentu saja akan mendorong peningkatan jumlah penumpang pesawat terbang. Pertumbuhan pasar penumpang di wilayah Asia Pasifik mencapai angka rata-rata 9% pertahun, sementara di Indonesia mencatat peningkatan lebih tinggi yaitu mencapai angka rata-rata 11% per tahun. Berbagai tipe dan kapasitas pesawat terbang dari pabrikan besar seperti Boeing dan Airbus juga akan berkembang untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan di kawasan ini.

Perkembangan industri penerbangan di Indonesia sangat terbantu dengan adanya bonus demografi sehingga peawat terbang merupakan kebutuhan utama bagi perpindahan penduduk antar kota maupun antar propinsi di Indonesia. Adanya populasi kalangan menengah yang begitu besar di Indonesia menyebabkan Indonesia begitu mempesona di mata dunia penerbangan ASEAN. Indonesia telah menjadi pasar yang menarik bagi seluruh maskapai penerbangan di ASEAN. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkisar antara 5-6% menjadikan pasar industri penerbangan di Indonesia sangat menjanjikan dan persaingannyapun sangat kompetitif. Industri penerbangan tanah air setiap tahunnya terus tumbuh pesat, sejumlah rute baru baik domestic maupun internasional terus dibuka oleh sejumlah maskapai. Maskapai penerbangan terus berekspansi membeli pesawat versi terbaru dari pabrikan Boeing, Airbus, Bombardier maupun ATR. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, ada 83 rute penerbangan baru sipil komersial. Perinciannya, sebanyak 58 rute penerbangan domestik dan 25 rute penerbangan internasional. Selain itu Indonesia mempunyai catatan keselamatan penerbangan yang sangat menggembirakan selama tahun 2017 dimana tercapai zero fatal accident untuk passenger jet aircraft maupun propeller aircraft. Perlu diketahui bahwa tahun 2017 adalah merupakan tahun keselamatan penerbangan dunia.

Dengan demikian, hanya ada dua potensi pasar dimasa depan yang perlu diantisipasi oleh industri penerbangan nasional yaitu pasar domestik (short haul sector) dan asia pasifik (medium haul sector) sehingga strategi dan perencanaan armada perlu disesuaikan dengan karakter pasar yang akan dilayani.

Meski demikian, bukan berarti dunia aviasi tanah air tanpa tantangan. Pada dasarnya, sebagian besar komponen biaya pada industri penerbangan sangat dipengaruhi oleh Dollar. Komponen biaya tersebut meliputi biaya avtur, biaya perawatan, biaya leasing, dan biaya asuransi. Perubahan kurs Dollar saat ini yang sudah mencapai IDR 14.700 sudah tentu sangat memukul industri penerbangan Indonesia dimana pendapatan sebagian besar maskapai yang terbang pada rute-rute domestik adalah dalam bentuk rupiah dikarenakan tarifnya telah ditetapkan oleh pemerintah dalam bentuk rupiah.

Tingginya biaya avtur menjadi tantangan terbesar pertama bagi maskapai penerbangan di tanah air. Secara komposisi, porsi biaya avtur sekitar 30-50 % dari seluruh komponen biaya. Dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN, harga avtur di Indonesia 20% lebih mahal, kemungkinan akibat  tingginya biaya distribusi karena panjangnya jalur distribusi BBM dari kilang Pertamina ke seluruh depot/ bandara di tanah air. Biaya pemeliharaan menjadi tantangan terbesar kedua industri penerbangan. Sekitar 20 % dari struktur biaya dialokasikan untuk biaya tersebut. Tantangan terbesar selanjutnya adalah pada biaya sewa pesawat dimana sekitar 15-20 % dari struktur biaya teralokasi untuk biaya sewa pesawat. Belum lagi jika melihat efek domino perubahan kurs dollar terhadap peningkatan biaya operasional di bandara maupun biaya navigasi. Semua peningkatan beban biaya tersebut menjadi tantangan berat yang harus dihadapi oleh sejumlah maskapai penerbangan tanah air.

Peluang dan Tantangan Dinamis Dunia Penerbangan Indonesia

Selama ini, semua maskapai terkena dampak tekanan kenaikan harga avtur dan fluktuasi mata uang asing. Namun sejak diberlakukannya UU No 1 Tahun 2009 yang berkaitan dengan penetapan tarif harga diatur oleh pemerintah sehingga maskapai penerbangan tidak dapat dengan mudah melakukan penyesuaian biaya operasional melalui penyesuaian tarif. Industri penerbangan nasional sangat dibatasi oleh koridor batas atas  (TBA) dan batas bawah  (TBB) yang telah ditentukan oleh Pemerintah. Padahal “Pricing adalah sesuatu yang seharusnya sangat dinamis mengikuti perubahan  lingkungan”. Pada kondisi seperti ini, para operator penerbangan dituntut untuk lebih efisien terlebih dahulu sebelum mengajukan pembahasan penentuan tarif batas bawah (TBB) kepada pemerintah agar tidak menjadi memberi bumerang bagi industri itu sendiri,

Adapun, tantangan dinamis lainnya datang dari upaya pemerintah pada tahun ini untuk mendongkrak devisa dengan cara memaksimalkan industri pariwisata dengan menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 17 juta orang. Berdasarkan asumsi bahwa yang akan dominan melakukan perjalanan wisata adalah dari kalangan kelas menengah dimana sebagian besar akan menggunakan LCC maka pemerintah berencana akan memberikan insentif kepada maskapai yang berkaitan dengan, Pertama, fleksibilitas dalam memperluas jaringan dan operasional LCC nasional dan rencana  membangun terminal khusus LCC. Kedua, pemerintah akan berupaya menurunkan harga avtur. Ketiga, Kemenhub akan menghitung ulang tarif batas bawah yang dikenakan kepada maskapai bertarif rendah.

Pemberian insentif kepada maskapai sebaiknya tidak hanya kepada maskapai dengan jenis layanan minimum (no frills/low cost carrier) saja karena maskapai layanan penuh (full service airlines) dan layanan medium (medium frills) juga mengangkut wisatawan.  Selain itu perlu di evaluasi apakah pembangunan terminal khusus LCC berdasarkan atas pertimbangan dan obyektif yang jelas? Dan apakah memang akan menjadikan biaya operasional bandara di terminal LCC tersebut menjadi otomatis lebih murah? Bagaimana dengan  kapasitas terminal I dan II bandara Soekarno Hatta saat ini, apakah sudah tidak memadai lagi?

Disruptive Technology

Selain dari beberapa tantangan dinamis yang sedang dihadapi oleh industri penerbangan nasional, tantangan lain yang tidak dapat diabaikan namun sebenarnya dapat berdampak masif, yaitu tantangan dalam mempersiapkan diri memasuki era inovasi disruptif yang mengubah platform dasar arena persaingan dan bisnis akibat munculnya inovasi baru yang menciptakan tren baru dan jejaring industri baru yang akhirnya mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu.

Sekitar 143 juta jiwa penduduk Indonesia telah memiliki akses internet melalui telepon genggam jenis smartphone. Fenomena ini dikenal sebagai disruptive technology yaitu teknologi membantu kegiatan ekonomi yang awalnya panjang dan rumit menjadi transaksi bisnis yang lebih cepat dan hemat.

96% pengguna internet di indonesia mempunyai akun facebook

Facebook adalah media social yang paling tinggi dimiliki oleh setiap warga Indonesia.  Dari 2 fakta diatas sebagai seorang pebisnis anda pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mempromosikan produk atau jasa anda melalui facebook. Sementara jumlah follower yang dimiliki oleh Maskapai Garuda Indonesia adalah FB (2,13 juta), Twitter (3,38 juta), IG (837 ribu). Jumlah follower FB Garuda ternyata masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah follower nasional yang telah terkoneksi dengan internet. Sekarang bayangkan jika jutaan daftar teman tersebut adalah orang-orang yang sangat antusias atau tertarik dengan produk Anda. Maka sama artinya Anda memiliki database calon pelanggan yang siap untuk membeli produk/jasa Anda.

Disruptive technology dapat terjadi di berbagai industri. Pada dunia aviasi, pengaruh inovasi disruptif telah terjadi sejak era deregulasi penerbangan di Indonesia yang ditandai dengan munculnya LCC Lion Air di pasar penerbangan Indonesia yang mengakibatkan Garuda Indonesia yang pasarnya mulai terganggu pada akhirnya membuat LCC Citilink. Kemunculan Batik Air dengan konsep layanan bintang lima namun harga kaki lima saat ini telah mempengaruhi pasar layanan full service Garuda Indonesia dan belum terlihat respon dari Garuda Indonesia untuk mengantisipasi agresivitas Batik Air. Pada kondisi ini Garuda jangan sampai terjebak pada situasi yang disebut dengan ‘Innovation Dilemma‘ dimana  Garuda dengan produk yang sudah mapan dan layanan bintang 5 tidak melakukan inovasi apapun karena menciptakan produk baru bisa membahayakan produk mapan tersebut.

Sementara itu pada jaringan distribusi penjualan tiket maskapai kepada pelanggan (agen perjalanan) telah muncul inovasi  disruptif dengan memanfaatkan secara masif perkembangan teknologi internet maka tampilnya pendatang baru Traveloka (B-2-C) dan Voltras (B-2-B) dengan model bisnis berbeda (Online Travel Agent) berhasil menawarkan kemudahan dalam akses dan harga yang lebih rendah sehingga pada akhirnya mengganggu pasar bisnis agen perjalanan konvensional.

Bagaimana dunia aviasi nasional bersikap menghadapi perubahan mendasar yang dapat merubah platform business penerbangan secara keseluruhan? Pada hakekatnya di bisnis apa saja, perilaku konsumen adalah kunci utama. Secara naluriah konsumen akan terus mencari produk dan layanan (service) yang  mampu memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi, harga yang wajar sesuai layanan yang diterima, dan kemudahan dalam mengakses layanan. Kejelian, sikap agile dan mau untuk terus belajar serta proaktif mengantisipasi perubahan mungkin dapat menciptakan inovasi baru dan peluang-peluang baru yang timbul di era disruptive innovation.

 

 

 

Did you like this? Share it:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Call Now Button
Shares
Get an awesome sticky message bar!Download
error: Content is protected !!